Sekedar Sajak Biasa
Saat ku menulis sajak ini
Aku masih ragu dengan apa yang
kutulis ini
Sesungguhnya aku bukan seorang
yang pandai merangkai kata ini
Bukan pula seorang yang puitis
maupun kritis
Namun jika kau menginginkan ku
menulis ini
Akan ku lakukan hanya demi KAMU..
Berawal dari sebuah perkenalan yang tak terduga
Aku merasa menemukan sebongkah
batu yang tak ku kenal sebelumnya
Setelah ku rasa sekian lama batu
yang hanya sebesar ibu jari
Batu tersebut ternyata berubah
menjadi batu yang berkilau
Walaupun awalnya hanya sebuah
batu yang kusam tak terawat
Namun kini ku mengerti bahwa
dirimu bukan sebuah batu biasa di hidupku
Bukan sebuah batu yang tak lagi
kusam
Bukan sebuah batu hitam yang tak
terawat
Setelah sekian lama ku rasakan
Ku rawat dan ku jaga batu itu dalam
hatiku
Kau berubah menjadi batu yang
lebih dari kilauan sang surya
Lebih dari sekedar pantulan sinar
matahari yang dipantulkan bulan
Di kemudian waktu aku baru
menyadari
Saat hatiku sedang tak menentu
kau selalu ada di sampingku
Kau selalu ada dalam sebuah
tempat yang rahasia
Tempat yang seharusnya hanya
diisi oleh sebuah batu yang bermakna dalam perjalanan hidupku
Waktu terus berlalu
Lambat laun kau terus terpatri
keras dalam dinding hatiku
Karena ku tahu dan mungkin
perasaan ini benar
Kau mengerti apa yang kurasakan
saat apapun yang terjadi
Kau adalah sebuah batu hitam yang
kokoh, kuat, hidup dalam hatiku
Namun aku juga mengerti hadirmu
di kehidupanku
Hanya ingin melihat aku Bahagia..
Sebenarnya aku ingin membalas semua ini
Tapi kurasa aku belum mampu
Karena ku tahu batu sepertimu
takkan mudah untuk aku gantikan
Terima kasih untuk sebuah batu yang
tlah kau patri dalam hatiku
Telah kau tanam dalam jiwaku
Telah kau semai dalam indahnya
sebuah kehidupan
Mengingatkanku tentang menghargai
perasaan orang lain
Kepedulian orang lain
Kasih sayang orang lain
Perhatian orang lain
Maafkan apabila aku belum mampu
menjadi sebuah batu yang indah dalam hatimu
Belum mampu menanam sebuah
keindahan dalam jiwamu
KINI KU TAHU KAU ADALAH SEBUAH BATU
YANG TAK PERNAH KU MILIKI
By : Julian Wong Edannn